cerita islami di masa pandemi
Cerita islami adalah sebuah cerita yang didalamnya mengedepankan nilai-nilai religius. Berbeda dengan dongeng yang biasanya lebih banyak unsur fantasi, sedangkan cerita islami lebih bersifat nyata. Berikut ini contoh cerita islami di masa pandemi yang berjudul SABAR YA SAYANG
Contoh cerita islami
SABAR YA SAYANG
Di tahun 2020 tepatnya Pada 2 Maret 2020, untuk pertama kalinya pemerintah mengumumkan dua kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia. Di hari itu aku masih merasa tenang-tenang, selang empat hari dua kasus covid-19 kembali muncul. Dan dari situ aku sama sekali tidak terpikir jika empat kasus yang diremehkan orang-orang itu Seketika menjadi bencana yang meruntuhkan ekonomi bangsa, angka kematian meningkat bahkan angka kemiskinan melonjak tajam.
Di tengah semua itu bulan yang paling aku tunggu di setiap tahunnya akan segera tiba, ya itu adalah bulan ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling membuat rindu para umat Islam. Seminggu menjelang ramadhan aku sangat bersemangat untuk menghiasi bulan suci itu dengan ibadah tarawih, tadarus, i'tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan yang tidak mungkin aku lupakan adalah asrama Al-Qur'an dan Al-Hadits yang selalu aku ikuti di setiap Ramadhan.
Bulan Ramadhan pun tiba, ternyata semua hal yang aku impikan itu terhalang dengan hitamnya bayangan virus yang tak lain adalah covid-19. Tepat 2 hari sebelum bulan Ramadhan, saat aku mulai mengemasi pakaianku untuk menuju ke pondok pesantren Wali Barokah. kebahagiaan ku itu tidak dapat di ungkapkan menggunakan kata-kata apapun, karena setelah masa-masa sekolah yang melelahkan, aku dapat kembali belajar Al-Qur'an dan menyucikan hati ku dengan mengingat Allah SWT. Setelah selesai berkemas aku membaringkan tubuhku di ranjang sambil menunggu hari esok yang sangat indah. Didalam hatiku aku ingin sekali Segera berada di pondok pesantren untuk mengikuti asrama, sholat tahajud, do'a malam dan berbagai jam padat pondok pesantren.
Matahari sudah memancarkan sinarnya, aku sudah siap untuk pergi ke pondok Wali Barokah. Aku di antar Abah ku yang tercinta menuju ponpes. Di perjalanan senyumku mengembang yang tidak sabar untuk menuju pondok yang paling membuatku rindu itu. Setelah masuk ke dalam gang menuju gerbang masuk pondok aku merasa aneh, karena biasanya setelah masuk gang pondok, kerumunan para santri sudah tampak, namun kini hanya ada aku dan Abah ku.
Setelah melihat pintu gerbang pondok yang tertutup rapat, bahkan aku tidak dapat melihat kedalam ponpes aku semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Assalamualaikum mas DMC" aku menyapa mas DMC yang baru saja keluar dari pondok
"Iya, ada yang bisa saya bantu Pak, Mbak" jawab mas DMC itu dengan sopan
"Kok pondoknya di tutup mas? Kenapa? saya mau ikut asrama Ramadan di ponpes" tanyaku yang merasa aneh ketika ponpes mulai tertutup rapat padahal sebelumnya tidak pernah terjadi.
"Maaf mbak, pihak ponpes lupa belum menyebarkan berita bahwa mulai kemarin pondok sudah ditutup rapat untuk menghindari paparan Virus covid-19 dan bagi santri yang sudah terlanjur pulang kampung tidak boleh kembali sebelum pandemi berakhir" jawab Mas DMC itu Seketika membuat semangat ku padam. Aku tidak bisa berkata apapun aku hanya terdiam karena semua angan-angan ku runtuh seketika.
"Seperti itu ya mas, jadi anak saya nggak bisa ikut asrama?" Tanya Abah
"Maaf pak, saya dan rekan-rekan DMC akan mencoba mencari jalan keluar agar mbaknya dan para santri yang terlanjur pulang kampung bisa ikut asrama" ucap mas DMC menolaknya dengan halus
"Baiklah, jaza kallahukhoiro mas" ucap Abah kemudian langsung membawaku pulang.
Sesampainya di rumah, aku langsung berlari memeluk umi ku sambil menangis kesegukan dan menceritakan tentang apa yang terjadi. Umi mencoba mengusap kesedihanku dengan mengatakan jika aku masih bisa belajar Al-Qur'an di masjid dan melakukan rutinitas pondok di masjid bersama para remaja masjid. Mendengar itu senyumku kembali mengembang, aku mulai membuka grup WhatsApp remaja masjid untuk mengumumkan bahwa mulai besok akan ada asrama Al-Qur'an dan yang akan memimpin jalannya asrama adalah Abah.
Di malam harinya, dari grup WhatsApp remaja masjid, ada yang mengirim dokumen di grup itu. aku pun langsung membaca dokumen itu, yang ternyata itu adalah surat edaran dari bupati yang mengatakan jika mulai besok supaya masjid-masjid, musholla dan tempat ibadah lainnya supaya di seterilkan dan di tutup sementara. Melihat itu aku langsung mengabarkan surat edaran itu kepada Abah sehingga asrama Al-Qur'an di batalkan karena di dalam surat edaran itu tidak ditulis sampai kapan tempat-tempat ibadah di tutup.
Covid-19 semakin mempersulit ku, aku mengeluh dan berfikir kenapa Allah SWT membuat sesuatu yang mempersulit umat-nya untuk beribadah kepada-nya? Bahkan di bulan suci sekalipun kenapa Allah SWT belum juga mencabut virus covid-19 ini. Pertanyaan itu muncul di diri ku yang seakan sudah menyerah. namun umi ku yang selalu merangkul ku dalam kesedihanku mencoba menenangkan ku.
"Sabar ya sayang, orang iman itu harus pasrah tapi tidak boleh menyerah, selain itu Allah SWT juga tidak pernah mempersulit hamba-nya. mengeluh, itu bukan sifat orang iman, karena orang iman selau ingat Allah dan bersyukur dengan semua Qadarullah. Teruslah menatap cahaya yang terang itu, maka bayangan hitam tidak akan pernah engkau lihat" Kata-kata dari umi seakan menjadi sebuah lilin yang menghempaskan gelapnya keluh kesahku. setelah itu aku pun mulai bangkit, ku lakukan rutinitas ponpes dari rumah. Sholat tarawih, tadarus, sholat malam dan lain sebagainya dan aku rasa itu tidak lah buruk tetaplah menyenangkan.
Satu Minggu kemudian, setelah tadarus aku mendengar android ku berbunyi. Aku meraih Android yang berada di sampingku dan Aku melihat pesan dari Mbak PASUS ponpes Wali Barokah, aku segera membacanya. Saat memebaca pesan itu, senyum kembali melintang di bibirku setelah aku membaca pengumuman jika ponpes membuka asrama online Al Qur'an. Setelah mendapat berita gembira itu aku sadar jika memang benar, Allah SWT tidak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia. Selain itu aku juga sadar jika memang Allah itu tidak pernah mempersulit hamba-nya, namun pemikiran yang sempitlah yang membuat itu terasa sulit dan berat.
Hari ini tanggal 26 Juli 2021 pandemi belum juga usai. Aku melihat keluar rumah, orang-orang sudah lelah mendengar kata covid-19, mereka semakin abai dengan protokol kesehatan bahkan mereka sampai termakan berita hoax seputar covid-19. Disaat aku membuka Android ku, juga banyak orang yang tidak bertanggung jawab menyebarkan berita bohong, namun aku tidak peduli dengan hal itu, karena aku mengerti jika mempercayai berita hoax itu dapat membuat pandemi terus berlanjut dan aku tidak ingin bulan Ramadhan tahun depan terjadi seperti Ramadan kemarin.
*miftakhirizqinakhusna@gmail.com*


Komentar
Posting Komentar