cerpen tema kedewasaan
Hay reader, kali ini aku akan membahas tentang kedewasaan sekaligus aku juga ingin menceritakan sedikit kisah yang aku rangkuman menjadi sebuah cerpen yang berjudul DEWASA ADALAH PILIHAN karya penulis favorit aku bernama Nurjannah azzahra.
Untuk yang kalian yang berusia 16 tahun ke atas. Kalian pasti sadar atau tidak sadar kalian ingin tahu apa itu kedewasaan jadi Kedewasaan di bagi. Menjadi dua. Yaitu, dewasa secara usia, dan dewasa secara mental.
Jadi Dewasa secara usia itu semua orang akan mengalaminya, sedangkan dewasa secara mental atau sikap itu adalah pilihan orang itu sendiri. Jadi intinya ya guys jika orang yang sudah berumur 20 tahun ke atas itu belum bisa dikatakan orang yang dewasa, meskipun dari segi fisik sudah terlihat tua. Sedangkan meskipun dia masih remaja maupun di katakan anak-anak tapi punya pemikiran dan jiwa kedewasaan maka sudah cukup dia di sebut dewasa meskipun umurnya masih di bawah 20 tahun. Dan hal itu biasanya terjadi karena didikan atau pengalaman Sehingga mengubah pribadi seorang remaja menjadi dewasa.
Cerita tentang kedewasaan
Dewasa adalah pilihan
(Karya: Nurjannah azzahra)
(Dewasa adalah pilihan. Dewasa untuk menghadapi masalah, tersenyum disaat seharusnya menangis, tertawa disaat seharusnya bersedih dan tetap berkata tidak apa-apa.)
Kilau hangat mentari, memaksa masuk ke ruang kamarku yang kecil. Pantulan sinarnya memancarkan kecantikan yang luar biasa. Aku hampir lupa membuka jendela di pagi ini, Jika saja Sinar keindahan itu tak mengingatkan ku. Hari ini, tepat 6 bulan sudah aku berada jauh dari orang-orang yang kucintai, dan sejak itu pula aku tak pernah pulang ke kampung halaman.
Langkah cepat ku terhenti, saat tiba di penurunan jalan yang menuju ke gedung kosku. Melewati jalan ini harus ekstra hati-hati, jangankan perjalanan kaki, motor atau mobil pun bisa saja tergelincir akibat terjadinya jalan ini. Aku saja Hampir tak percaya, di kota yang sebesar ini, ternyata masih banyak orang-orang tak bertanggung jawab pada keselamatan mereka sendiri.
Keringat deras mengalir di wajahku yang bulat. beginilah olahraga rutin ku, berjalan dari kos ke kampus, kemudian berjalan lagi hingga sampai di kelasku yang jaraknya kurang lebih 500 meter.
"Assalamualaikum Lis," sapa seorang teman saat aku baru saja duduk di kursi ku
"Waalaikumsalam wa," jawabku. Dia adalah Uswatun Hasanah. teman yang akhir-akhir ini sering menemaniku di kampus, sejak aku mulai mengubah teman sepergaulan.
"Bapak masih lama masuknya? Kan sudah jam delapan"
"Yah, kamu kaya nggak kenal dosen aja. Sukanya, kan, telat" lanjutnya sambil menggeser kursinya ke sampingku.
"Kamu sudah bayar SPP belum?" Bisiknya
Aku hanya bisa menggeleng, lalu ia pun menatapku dengan Tatapan yang tak ku mengerti. aku beranjak dari kursi, meraih buku bacaan dari dalam tas, lalu bergegas keluar ruangan untuk menghindari pertanyaan yang lain.
Mata kuliah komunikasi kesehatan selesai pukul jam 11. 30 tepat desain ini benar-benar hebat meski dia terlambat masuk, Tapi giliran jadwal pulang sangat tepat waktu.
"Kamu kenapa sih Lis di kayaknya nggak mood banget pagi ini,?" Uswa kembali melemparkan pertanyaan sembari menatapku dengan ekspresi prihatin.
"Nggak apa-apa kok, makasih sudah khawatir," balasku sambil tersenyum
Aku kembali tiba dengan keringat mengucur deras, belum lagi ruangan sempit ini benar-benar membuatku semakin kepanasan. Kincir kecil yang disebut kipas pun, tak mampu meredakan sedikit hawa panas siang itu. perhatianku beralih pada secarik kertas HVS yang tergantung di salah satu pojokan dinding kamarku. Dari jauh saja, aku sudah tahu apa itu. Kau pejamkan mata lelah ini sejenak, berusaha mencerna Apa yang sedang terjadi, hingga tak terasa butiran asin mengalir tanpa perintah.
Assalamualaikum Nak, ibu belum bisa mengirimkan uang. Bapak juga sedang sakit, kalau nanti dapat pinjaman, Ibu pasti akan segera transfer ke rekening mu.
kucerna baik-baik setiap kata yang tertulis pada layar telepon genggam ku. Balasan Ibu baru saja masuk, padahal aku telah mengirimkan SMS tersebut sejak 1 minggu yang lalu. Butiran asinnya tak juga berhenti mengalir.
Pikiranku memutar ingatan masa lalu, mencoba mengais memori kecil tentang impian mustahil kalau itu. Saat kecil, aku sangat ingin menjadi dokter. Setiap kali mendengar kalau Ayah atau Ibuku sakit, Ingin rasanya saat itu juga aku mengobati dan menyembuhkan sakit mereka. Memoriku meronta, tak ada yang dapat kulakukan selain berdoa.
Dewasa adalah pilihan. Dewasa untuk menghadapi masalah tersenyum disaat seharusnya menangis, tertawa meski seharusnya bersedih dan tetap berkata tidak apa-apa. Dewasa, membuatku paham bahwa menjalani hidup itu tak mudah. Kamu butuh kepura-puraan, kamu butuh kekuatan penuh. Hidup adalah Ironi, kau tak akan mampu tanpa usaha, doa adalah keberanian.
Berada pada pijakan ini saja aku sudah sangat bersyukur. Masih basah ingatan tentang kerja keras Ibu membujuk Ayah untuk mengizinkanku melanjutkan kuliah di kota. 6 bulan yang lalu Betapa bahagianya aku saat Ayah menyetujuinya. Meski ku tahu Ayah tak sepenuhnya merestui. Aku tetap ingin melangkah maju, Apapun yang terjadi aku harus kuliah. Hanya itu yang ku pikirkan. Maka dengan keberanian, hingga pada detik ini aku melakukan segalanya sendiri.
setelah pengumuman keluar, aku dinyatakan lulus di jurusan yang kutuju. Kesehatan masyarakat jurusan yang hampir sama dengan dokter. Paling tidak aku masih bertekad masuk ke dunia kesehatan Ayah yang mengetahui hal itu, merespon ku dengan cara yang tak pernah kuduga. Diamnya mengisyaratkan jawaban yang sangat menyakitkan, Aku merasa sangat bersalah. Ibu memeluk dan merasa bangga atas usahaku tapi ayah tetap membalasku dengan diam yang menusuk.
"Lis, nggak jajan?" Tiba-tiba suara yang ku kenal membuyarkan lamunanku.
"Nggak Wa, ntar aja," jawabku menyahuti Uswa
Uswa kembali menatapku dengan wajah prihatin dan dan aku tak menyukai tatapan itu.
"Lis, cerita dong. Kamu ada masalah apa? Padahal biasanya kami tuh paling jago cerita, apa aja kamu ceritain. Udah dua hati kami mitung melulu."
"Aku nggak papa, emang lagi males aja."
"Ya udah kalau nggak mau cerita. Jajan yuk? Aku lapar. Aku traktir deh."
Aku benci perhatian itu. Namun aku bisa apa? Tak ada yang dapat kulakukan selain menerimanya dengan penuh ketabahan dan keikhlasan. Hidup memang tidak mudah titik dosen yang masuk siang itu itu adalah ketua jurusan ku, dan tentu saja seperti yang telah kuduga, sebelum meninggalkan kelas beliau mengingatkan tentang batas pembayaran SPP yang akan berakhir satu minggu lagi. Untung saja, dia tak meminta mahasiswa yang belum membayar untuk angkat tangan.
"Lis, ikut program beasiswa yuk. Aku punya info nih seputar beasiswa yang baru aja dibuka Minggu ini. Coba liat deh!" Ami teman sekelasku, menyodorkan telepon genggam canggih miliknya. Kubaca perlahan, sembari tersenyum seolah mendapat cahaya cerah dari Allah titik kulihat dengan teliti, laluku salin dengan baik pada secarik kertas.
Esok harinya, aku menyiapkan segala syarat yang dibutuhkan oleh program beasiswa tersebut. Karena hari itu hari Jumat, aku bergegas ke kampus lebih awal karena para staf dan pegawai, pasti akan pulang cepat hari itu. Ruang kelas masih kosong. Aku pun berinisiatif menulis informasi beasiswa itu di papan tulis. Beberapa menit kemudian datanglah tiga gadis cantik dengan pakaian modis.
" tumben datang lebih awal, Lis," sapa Alina saat melihatku sedang menulis di papan
" beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dan kurang Sejahtera." Dia membaca apa yang kutulis dan menekan kan kata kurang Sejahtera dengan nada yang berbeda. Mereka saling lirik selalu tersenyum menghina. Aku kembali duduk di kursi, tak ingin menggubris pertanyaan mereka aku sudah dewasa, Tak layak rasanya jika bersikap sama.
Beberapa menit kemudian, kelas pun terisi penuh. Semua perhatian mereka tertuju pada papan tulis, dan membaca lekat-lekat Pengumuman itu. Aku menunggu, Berharap ada yang menanyakan seputar informasi lebih lanjut tentang beasiswa itu, atau hal yang berkaitan, namun semuanya hanya diam lalu sibuk berbisik-bisik.
Entah Sejak kapan hal seperti itu terjadi, yang kutahu pasti, aku telah menjauh dengan teman-teman yang hidup dengan kemewahan sejak 3 bulan yang lalu. Aku menjauh dari mereka yang selalu menghamburkan uang sesukanya, dan mungkin sejak itu pula aku tak digubris oleh kebanyakan teman yang lain.
"Kamu ikut beasiswa itu Lis?" Akhirnya ada yang bertanya kepada. Aku menoleh dan mendapati Uswa.
"Iya, Uswa," balasku dengan senyum yakin.
Siang itu aku kembali mengikuti kajian Jumat muslimah, di lantai dua fakultasku. Rasanya senang sekali bisa bertemu dengan wanita-wanita muslimah yang tak pernah nah menonjolkan kemewahan mereka. Semua nya sama, tak ada perbedaan. Baik atau buruk, kaya ataupun miskin.
Gajian siang itu menghentikan segala keresahanku akan kesulitan yang telah kujalani sejak 3 bulan terakhir. Pemateri membawakan kajian yang sangat istimewa "bersabarlah, Allah sayang kamu". Aku sampai menitikkan air mata. Betapa Allah menyayangiku.
Aku diberi amanah untuk menyampaikan ayat-ayat Alquran mengenai kesabaran. Semua menungguku berbicara. Ku kumpulkan segenap keberanian ku agar tak menangis tersedu-sedu di tengah-tengah mereka dan mulai membaca Bismillahirohmanirohim!
" dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Qs. Al Baqarah:155)
" sesungguhnya hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas"
Butiran asin kembali hadir di wajahku yang bulat, tapi ternyata bukan hanya aku yang menangis. Sebagian besar saudara-saudaraku di ruangan itu pun ikut menangis. sungguh betapa Allah menyayangiku, ia tak pernah meninggalkanku. Lantas apa yang ku takutkan?
Jumat kembali datang, pelangi pun hadir setelah datangnya hujan. Ibu mentransferkan sejumlah uang untukku di hari terakhir pembayaran SPP dan sungguh beruntungnya aku karena Namaku dinyatakan lolos pada program beasiswa yang kuikuti. Maka untuk semester semester selanjutnya aku tak akan memberatkan ayah dan ibu lagi. Ibu senang mendengar berita tersebut, tangis haru Ayah pun telah sehat kembali.
" sungguh Allah benar-benar menyayangi kita, Nak," ucap ibu tiba-tiba. Memang hanya ibu lah, yang paling mengerti perasaan anaknya lebih dari apapun itu itu dan kami merasakannya. Aku dan ibu. Bidadari dunia yang dianugerahkan Allah untukku dan seorang malaikat dunia seperti ayah, yang juga tak pernah lelah melindungi keluarganya dalam segala keadaan dengan penuh kesabaran. Peristiwa ini mengubahku lebih dewasa dewasa dalam menjalani kehidupan yang ironis.
" Alhamdulillah bu, Allah masih mengizinkan Lisa untuk terus bertahan,". Balasku pada ibu, sebelum menutup perbincangan kami malam itu.
Penulis bernama Nurjannah azzahra. Lahir di massamba, 01 janua 1997. Beberapa karya dari mahasiswi kesehatan masyarakat fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan universitas Islam negeri Alaudin Makasar ini pernah di muat dalam surat kabar. Karyanya yang lain berupa 2 antologi cerpen dan 4 antologi puisi. Dapat di kenal lebih lanjut melalui akun Facebook Nurjanna azzahra

Komentar
Posting Komentar