Cerpen tentang Monas jawa
UNTUK MONAS JAWA.
Di masa kolonial Belanda pada saat tahun 1912 Belanda berhasil menguasai wilayah-wilayah di Indonesia tak terkecuali di kabupaten Kediri. Di sana Belanda merampas harta kekayaan alam milik pribumi, Belanda menjadikan rakyat Kediri sebagai budak, mereka di paksa untuk membuat alat transportasi dan sebuah pabrik termasuk juga pabrik gula untuk menyaingi Kuba, yaitu produsen gula terbesar di dunia saat itu, dan upaya itu pun berhasil dengan membangun banyak pabrik di daerah Kediri termasuk juga yang berada di desa butuh kecamatan Kras kabupaten Kediri, yang sekarang ini lebih di kenal dengan sebutan MONAS JAWA karena cerobong asapnya yang sangat tinggi, dan merupakan cerobong asap tertinggi di Indonesia pada masanya, konon saat pembangunan pabrik gula itu rakyat pribumi banyak yang meregang nyawa karena jatuh dari ketinggian.
Para penduduk pribumi di paksa menanam tebu sekaligus memanen dan mengolahnya menjadi gula tanpa bayaran sepeserpun. Kekejaman Belanda tetap berlanjut hingga tahun Ketahun.
Sampai suatu hari seorang Pemuda bernama Suwardi marah kepada tentara belanda karena ayahnya di tembak oleh Belanda hingga meninggal hanya karena melakukan sedikit kesalahan. Suwardi mencoba memprovokasi rakyat pribumi agar tidak tunduk kepada Belanda, selain itu Suwardi bersama temannya yang bernama Basilius (tentara Belanda yang tidak setuju dengan perbudakan dari Belanda) Mereka berdua membentuk sebuah kelompok perampok bertopeng untuk merampok dan menjarah harta benda dan senjata milik Belanda.
Hari demi hari Suwardi dan Basilius berhasil menyakinkan pemuda pribumi untuk melawan Belanda. mereka berhasil membangkitkan semangat para pemuda di desa butuh yang bekerja di pabrik gula belanda. Mereka mulai bergerilya dan menyamar untuk mencuri senjata milik Belanda agar dapat di gunakan untuk melawan Belanda.
Di persawahan tebu yang tidak jauh dari pabrik gula belanda puluhan bahkan ratusan pemuda berkupul membentuk barisan yang rapi membawa senapan curian dari belanda, golok, clurit dan berbagai barang yang bisa di gunakan sebagai senjata. Wajah garang mereka seakan menjadi simbol semangat mereka untuk melawan Belanda, badan yang berdiri tegap melambangkan kekokohan dan kekuatan mereka. Di tengah kerumunan itu seorang anak remaja berusia 15 tahun maju kedepan ke arah Suwardi dan Basilius berada dengan langkah tegap dan penuh percaya diri.
"Nama saya Mugiono, saya membawa bambu runcing dari rumah, saya ingin ikut membela rakyat Butuh, saya siap berkorban, saya rela mati,saya ikhlas, saya siap berkorban untuk merebut kembali kedamaian yang di rebut Belanda" ucapan itu diluncurkan Mugiono sehingga dapat membakar semangat Suwardi, Basilius dan para pemuda yang melihatnya.
Basilius yang sudah lama bergabung dengan pasukan Belanda mengajarkan mereka semua tentang strategi perang. Setelah semua siap Mereka segera berangkat berpencar menjadi empat pasukan yang akan mengepung pabrik gula Butuh. Dengan peralatan sederhana mereka menyerbu pasukan Belanda, di waktu yang bersamaan para rakyat Kediri bahu membahu untuk mengusir belanda di wilayahnya masing-masing. korban banyak yang berjatuhan termasuk juga dari pasukan Belanda yang belum siap untuk berperang. Pada hari itu pasukan dari Suwardi berhasil mendapatkan banyak jarahan dari pasukan Belanda, hal itu menjadi penyemangat rakyat pribumi untuk terus melawan Belanda. Pertempuran itu terus berlangsung dengan bergrilya, pasukan Belanda yang sudah tidak punya dana untuk membiayai pertempuran itu akhirnya pergi dari Kediri.
Beberapa hari kemudian pasukan Jepang datang untuk mengambil alih pabrik gula itu, kedatangan Jepang itu sempat membuat rakyat pribumi ketakutan. Namun setelah Suwardi mengetahui hal itu, dengan cepat Suwardi dan dibantu sahabatnya Basilius menghasut para pasukan Jepang dan pemimpinnya, dengan mengatakan jika pabrik gula itu akan sulit maju karena sumber mata airnya terlalu jauh, selain itu Jepang harus merenovasi pabrik jika ingin mengambil alih pabrik gula belanda dan biaya renovasi pabrik itu tidaklah murah. Dengan kecerdikan mereka, mereka berhasil meyakinkan pemimpin Jepang sehingga jepang tidak jadi mengambil alih pabrik itu. Jepang yang licik mereka mempunyai siasat agar pabrik itu tidak lagi beroperasi, dengan cara mereka meluncurkan beberapa bom untuk menghancurkan pabrik gula itu. sisa-sisa gula yang ada di pabrik itu beterbangan dan rakyat pribumi yang melihat itu berlarian memunguti gula yang berjatuhan.
Keesokan harinya di depan cerobong asap pabrik gula belanda yang tidak bisa roboh meskipun di bom oleh Jepang Suwardi dan sahabatnya Basilius berdiri menghadap ke arah cerobong asap dan puing-puing bangunan yang masih berserakan. Mereka tampak senang dan bangga karena berhasil mengusir Belanda. Mereka berdua berdua mengajak rakyat pribumi untuk mengumpulkan bata merah yang berserakan, kemudian melindasnya dengan roda cikar sehingga menjadi butiran-butiran lembut, setelah lembut kemudian di kumpulkan dan dijual. Hasil penjualan itulah yang digunakan rakyat pribumi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu mereka mulai mempelopori rakyat pribumi untuk menanam tanaman selain tanaman tebu sepreti jagung, padi di dan lain sebagainya.
Perjuangan Suwardi dan Basilius dan keberanian Mugiono berhasil membuat saya terkesan, meskipun saya tidak mengetahui secara langsung perjuangan dan keberanian mereka untuk melawan dan kembali memakmurkan rakyat butuh kecamatan Kras kabupaten Kediri. Bahkan saya tidak bisa melihat bangunang pabrik gula itu dengan utuh. Saya hanya bisa melihat banguna berupa cerobong asap dan sumber air buatan Belanda sampai sekarang masih mengalir deras, yang sekarang lebih dikenal masyarakat sekitar dengan sebutan tangki. Jika bangunan bersejarah itu tidak dijaga dengan baik, mungkin suatu saat nanti anak cucu kita kelak tidak akan bisa mengenang masa kelam itu. Dan tidak akan bisa mensyukuri bahwa kedamaian yang mereka rasakan sekarang adalah berkat jerih payah nenek moyang terdahulu.

Komentar
Posting Komentar