Cerpen tentang bersyukur
Hay reader kali ini aku akan berikan cerpen yang semoga bisa memotivasi kalian untuk terus bersyukur dengan apa yang kalian jalani saat ini.
LELAH
Namaku miftahi, Pagi ini aku terbangun dari kamar sempit ku. Aku mulai menyalakan ponselku dan melihat Jam sudah menunjukkan pukul 4:30, aku mulai bangkit dan segera mengerjakan salat subuh.
Setelah salat Aku merenung sejenak, Aku berfikir Jika Aku sudah lelah menjadi penulis. Aku pikir jika menjadi penulis tidak ada gunanya dan hanya menghasilkan sedikit uang. Aku mulai melamun dan tanpa sadar Ibuku memanggilku sedaritadi.
"Nak, ayo bantu ibu masak dulu" setelah itu ibuku langsung menuju ke dapur. Aku pun segera beranjak dan menuju dapur. Selama memasak aku hanya diam dan melamun, berfikir apa sebenarnya motivasi ku menulis?. Karena sebelumnya, menulis hanyalah bentuk ekspresi ku menuangkan pemikiranku kedalam cerita itu, namun kini alasan itu tidak cukup untuk membangkitkan ku dari jiwa malasku dan membuatku kembali menulis.
Setelah selesai masak akupun sarapan bersama keluargaku, namun tetap saja aku masih larut dengan lamunanku. Tak terasa aku sudah menghabiskan makanan di piringku. Aku pun segera beranjak dan menuju meja belajarku untuk mengikuti pembelajaran online. Aku mulai membuka laptop dan Androidku.
"Apa? Hari ini pembelajaran tatap muka?" Ucapku terkejut
"Jadwal kelas XII TKJ 2 hari ini adalah pembelajaran tatap muka di lab komputer 3 jam 8:00" aku membaca pengumuman itu yang membuatku panik.
di jalan aku mulai macu motor butut ku dengan kecepatan tinggi, semua kendaraan di depan ku dengan mudah aku dahului dan aku pun sampai di sekolahku yang berada di SMK NEGERI 1 KRAS.
"Loh kalian kok nggak masuk?" Tanyaku saat melihat teman temanku yang masih di luar lab padahal jam sudah menunjukkan pukul 8:15. Namun teman-temanku tidak menjawab apapun dan hanya menarik nafasnya saja. Aku pun mencoba membuka pintu lab dan aku pun gagal, ternyata pintu lab masih terkunci.
"Kamu itu kayak nggak hafal sama guru kita itu" kata Ningsih teman sekelas ku dengan wajah kesal
"Hmm, biasalah" jawab ku setelah menarik nafas
"Btw semenjak ada covid-19 sekolah tatap muka jadi nggak seru" kata Selfi teman sekelas ku
"Iya, pekerjaan rumah makin numpuk dan bikin puyeng" tambah Odri
"Hey, hey guys, kalian sudah ngerjain tugas agama belum? Kalau sudah sini ntar aku kumpulkan ke Bu Luluk" ucap temanku Febi yang juga wakil ketua kelasku yang tiba-tiba datang. Setelah itu kami segera memberikan buku tugas ke Febi.
Tak lama kemudian guru mapel hari ini datang dan segera membuka lab komputer, dan kami pun langsung masuk. Didalam lab, pak guru menjelaskan sedikit tentang konfigurasi router. Setelah itu pak guru mulai menulis beberapa soal untuk di praktekkan murid-muridnya.
"Maaf ya saya mau ke kantor dulu karena ada rapat dadakan, jadi kalian pelajari dulu soal konfigurasi router ini dulu nanti saya lanjut" setelah itu pak guru langsung pergi ke kantor.
"Ada, ada saja rapat kok di waktu pembelajaran tatap muka" keluh Ningsih yang duduk di sebelah ku
"Ya gitu deh" jawab ku.
"Eh ayo baca novel ini, wah keren banget, alurya penuh plot twist seakan aku pemeran utamanya" Ningsih menunjukkan novel online di androidnya.
"Tentang apa?" Aku melirik ke arah judul novel itu yang berjudul I CAN BE A DEVIL. Melihat itu aku tersenyum karena novel itu adalah salah satu karyaku sebagai penulis.
"Setelah aku membaca ini, aku berkhayal jika aku bisa bertemu langsung dengan penulisnya, dan aku ber mimpi ingin menjadi penulis seperti dia" Ningsih mulai tersenyum-senyum berkhayal.
"Kalau kamu ketemu penulisnya memang kamu mau apa? Dan kalau kamu mau jadi penulis ya menulis lah" jawab ku mencoba tidak memberitahu jika aku lah penulisnya
"Aku pengen Foto sama dia dan meminta sarannya apakah aku pantas menjadi penulis, dan tak lupa aku ingin memberikannya semangat agar terus berkarya" jawab Ningsih sambil berkhayal-hayal
"Sini HP kamu" aku mengambil android Ningsih kemudian berfoto dengannya.
"Pantas atau tidak pantas menjadi penulis itu tergantung diri kamu sendiri, mau memulai atau tidak" aku mengembalikan pH milik Ningsih
"Ya mungkin aku hanya di tak dirkan untuk bermimpi karena aku tidak punya bakat untuk menulis" ucap Ningsih yang membuatku sadar jika aku kurang bersyukur.
Memang menjadi penulis tidak membuat kita menjadi kaya mendadak, namun setidaknya kita bisa membuat banyak orang tersenyum dan termotivasi dengan kaya yang kita buat.
Aku sangat berterima kasih kepada Ningsih, karena dengan tanpa sengaja dia sudah memberiku semangat, dia sudah memberikan alasan kenapa aku harus terus berkarya. Terkadang kita tidak sadar jika yang kita lakukan hari ini adalah mimpi orang lain yang belum beruntung.
Buat kalian, yang lelah dengan pekerjaan kalian ingatlah jika masih banyak pengangguran yang memimpikan pekerjaan itu. Buat para pelajar atau mahasiswa, semangat, kalian buka satu satunya yang lelah dengan keadaan. Setidaknya kalian masih bisa kuliah atau sekolah karena masih banyak anak-anak putus sekolah yang memimpikan hal ini. Dan jika kalian memiliki pekerjaan yang gajinya kecil, ingat masih banyak orang kelaparan yang memimpikan sesuap nasi yang kalian makan. Uang atau harta memang penting tapi itu bukan segalanya, namun segalanya butuh di syukuri.
*Miftakhi Rizqina Khusna*

Komentar
Posting Komentar