Cerpen motivasi
Sekat antara dewasa dan individualis
Karya: Orchid Waskito
(Mengatas namakan solidaritas untuk berlaku buruk, itu namanya kekanak-kanakan.)
Bukannya tak suka bergaul, aku hanya lebih suka menghabiskan waktu sendiri bersama pikiranku. Bukannya tidak ingin berteman sama aku tak akrab dengan perbedaan pendapat titik hingga aku pun bertemu dengan orang yang berpemikiran denganku.
Usia 17 tahun nyatanya tak serta merta membawaku menjadi individu yang lebih dewasa. Kukira di usia itu setiap paginya aku akan terbangun dengan segudang quote kebijaksanaan dalam otakku. Aku setidaknya tidak kesal ketika disuruh ibu menjaga adik-adikku.
Aku sebenarnya benci menjadi dewasa karena kedewasaan bukan hanya membawa pola pikir Kompleks bersamanya, tapi juga segudang permasalahan dengan problem solving. Baiklah aku tipikal orang yang akan mencari pelarian ketika mempunyai masalah, lalu berharap akan ada aparat setempat yang dengan senang hati menyelesaikan masalah itu dengan hukumnya.
"Eh, Anita, lu yang laporin kita ke wali kelas, kan?" Tanya seorang siswa pada sosok yang hanya diam, fokus dengan tulisannya.
"Dasar cupu lu, nggak punya solidaritas sama teman!" Kupingnya senja ditulikan karena dia bergeming.
Namanya Anita, siswi IPS dengan semua stereotype yang beredar di masyarakat bahwa siswa-siswa dengan jurusan itu hanya tahu membuat onar. Tak akrab dengan buku, pulpen, dan tugas. Bahkan ada yang sengaja meninggalkan buku-bukunya di hari pertama sekolah dalam laci meja lalu esoknya tidak perlu membawa tas.
"Gak usah masukin hati, But," ucapku menyemangati sambil mengelus punggungnya.
"Udah biasa kok, Cit, digituin."
" Lagian kamu kan nggak bakalan butuh mereka. Besok-besok kalau mereka butuh kamu, nggak usah diladenin."
"Yah, ga gitu juga, Cit!" Kami lalu tertawa bersama
Semakin dewasa seseorang, faktanya akan semakin sedikit juga teman bergaul nya. Mungkin lebih selektif dalam memilih teman. Layaknya sebuah quote ' teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawakanmu ke atas atau malah sebaliknya, membawamu ke bawah. Maka hati-hatilah, anak tangga yang mana yang sedang engkau lalui'. Yah, aku dan Anita hanya segelintir orang yang berpegang teguh pada paham itu.
"Kami kok gak balik marah sih?" Tanyaku kemudian.
"Ngapain marah sama batu?"
"Kelewatan mereka tuh"
"Bukan kelewatan, Orchid, mereka tuh cuma nggak paham."
"Gak paham agama?" Tanyaku dengan tampang polos, Anita sedikit tersenyum.
" mereka nggak paham kalau hal-hal baik nggak mungkin dicampuri hal-hal buruk. Mengatasnamakan solidaritas untuk berlaku buruk, itu namanya kekanak-kanakan. Dan diagamaku juga dijelaskan, sekalipun ada pisau di lehermu, tetap berpegang teguhlah pada hal-hal baik."
Aku dan Anita mungkin memiliki kepercayaan yang berbeda titik namun tak pernah itu jadi penghalang untuk saling mengingatkan titik bahkan wanita akan sangat galak ketika mengingatkanku untuk salat.
Aku bertemu dengannya ketika duduk di kelas 2 SMA. Ketika pertama kali melihatnya, Aku punya segudang kesimpulan negatif. Tentang dia yang terlalu kaku, pemilih dalam berteman, egois, dan individualis. Hingga tak sengaja kami secara formal saling mengenal dalam klub belajar olimpiade sains mata pelajaran geografi.
Seketika itu juga ku tarik semua kesimpulan tak berdasar itu. Meskipun dia memang seorang individualis. Pernah aku mengomentari sifatnya, lalu dia menjawab.
" bukan individualis namanya ketika kita melakukan sesuatu hal sendiri titik kalau memang kita bisa dan mampu sendiri, kenapa tidak? Jika bagimu itu individualis bagiku adalah kemandirian."
Kedewasaan tak melulu kita pelajari dari orang yang usianya jauh diatas kita, tetapi bisa juga didapat dari mereka yang sepantar atau bahkan lebih muda dari kita. Dewasa adalah ketika memutuskan sesuatu lalu kita menerima akibatnya tanpa pernah menyesal. Dan bagiku tak pernah ada kata menyesal karena sudah dipertemukan dengan sosok hebat bernama Anita.
Kelulusan pun tiba pertemuan dan perpisahan selalu beriringan, 2 tahun memang waktu yang singkat untuk menjalin hubungan persahabatan. namun yang penting bukan berapa lama kamu mengenal seseorang, tapi seberapa dalam kamu mengenalnya
"Cie, yang lulus di UGM," godaku sambil menyikut pinggang Anita.
"Hehe. Iya, tapi ayah nggak mengizinkan."
"Ha? Seriuan?"
"Iya. Ayah mau aku nerusin perjuangannya sebagai gembala."
"Terus kali langsung iya?"
"Aku nggak punya pilihan lain"
" harusnya mereka dukung mimpi-mimpimu, kok, malah mereka yang membuat kamu menguburnya dalam-dalam!" Ucapku kesal.
"Santai aja Cit. Membahagiakan orang tua juga salah satu mimpiku kok. Makanya kamu bersyukur. Bisa nentuin jalanmu sendiri. bisa memutuskan semua pilihan dalam hidupmu."
"Iya Not. Aku yakin kamu bakalan jadi orang hebat. Jangan hebat ngomentari orang aja!" Katanya, membuat tawa kami berderai.
Kedewasaan tak melulu datang dari dalam diri sendiri karena lingkungan pun mempengaruhi. Lagi-lagi berdasarkan sebuah quote 'jika ingin menjadi dewasa, berhentilah bergaul dengan mereka yang kekanak-kanakan'. Maka dari itu, cari partner perjalanan yang akan berada di sisimu bahkan disaat terendah mu karena jalan menuju puncak kedewasaan Tak Pernah mudah.
Orchid. Penulis yang juga seorang mahasiswa salah satu PTS di Jogja ini kampung halaman di Manado titik anak sulung pencinta kucing yang masih belum punya kucing pribadi. bisa dihubungi melalui Orchidevangelica.Blogspot.com
Bagaimana reader, cukup memotivasi kalian kan? Berikutnya aku akan kembali merangkum kisah inspiratif yang lebih keren lagi.

Komentar
Posting Komentar